Sunday, February 22, 2015

Tidak ada yang sia - sia


Akhir - akhir ini saya merasa bosan dengan rutinitas. Tahu kan runititas apa yang sedang saya jalani ? Yap, rutinitas sebagai pelajar tentunya. Menjadi pelajar itu membosankan. Banyak tugas, capek, dan masih banyak lagi. Belum lagi guru memberikan deadline pengumpulan tugas seenak jidatnya, wkwk. Mereka tidak tahu apa, kalau pelajarannya itu tidak hanya 1 tapi banyak. Oemji ! -_-

Ditambah lagi, semakin lama pelajarannya semakin konyol. Bayangkan saja, ada banyak rumus - rumus yang harus kita pelajari. Itu buat apa coba ? Apakah rumus itu digunakan dalam kehidupan sehari - hari ? Tidak. (ini adalah pendapat orang yang sedang frustasi, jangan ditiru, wkwk ). Oiya, apalagi hampir setiap hari saya selalu terlambat ke sekolah. Dan terpaksa harus dihukum jalan jongkok. Yah, bisa dibilang olahraga pagi. Tidak heran kalau setiap datang ke kelas selalu ngos - ngosan. Ah, Pak Satpam memang tidak bisa diajak kompromi. Memangnya dia tidak pernah muda apa ? wkwk.

Pernah waktu itu telat terus dihukum jalan jongkok, padahal jam pertama ada Ulangan Harian matematika. Saat hukuman itu selesai, saya langsung berlari menuju kelas. Dan ternyata Ulangan sudah dimulai. Padahal saya belum siap. Jadi, nilai yang saya peroleh pun sangat amat jauh yang mendalam di bawah KKM. Ya sudahlah !

Seperti itulah rutinitas yang membosankan. Kalau setiap hari begitu kan juga bosan. Lalu buat apa sekolah ? "itu tuntutan". Buat apa kita masih melakukan hal yang tidak disukai ? "kalau tidak sekolah, kamu mau jadi apa nduk. Ya, mungkin sebagian besar akan berpendapat seperti itu. Kalau tidak sekolah, kita mau jadi apa ? Tapi, saya punya pendapat seperti ini :


"Dunia terasa sempit jika kamu hanya belajar di bangku sekolah" - Artis Papan Atas Quote


Ah, lupakan pendapat itu. Mungkin itu pendapat sesat. Jangan di copas, takutnya nanti jadi seperti saya, wkwk.

Balik lagi ke topik. Intinya saya bosan dengan rutinitas di sekolah. Iya, sangat bosan sekali. Karena saya merasa, buat apa belajar seperti itu. Toh, nanti kalau sudah bekerja apa masih dipakai ? Menurut saya tidak. #pendapatsesatlagi.

Disaat tingkat kemalasan saya memuncak, saya mendengarkan Bapak sedang menasihati adik perempuan saya. Ya, dia kelas 6 SD sebentar lagi mau Ujian Nasional. Jadi, dia harus banyak diberi motivasi agar bisa membangkitkan semangat belajarnya. 

Saya mendengar Bapak saya berkata seperti ini : "Kerjakan soal - soal itu, jangan malas, jangan bosan. Wes to, kabeh kuwi ngko enek imbalane"

Dia mengatakan kalau usahanya itu akan mendapat imbalan. Lalu saya pun mendengarkan lebih dekat dan ikut dalam pembicaraan itu.

Setelah itu, dia menceritakan bagaimana dia menuntu ilmu. Begini ceritanya. Bapak saya adalah anak orang yang tidak mampu. Orangtuanya tidak bisa membiayai dia sekolah. Tapi Bapak saya benar benar mempunyai kemauan untuk belajar, bagaimanapun caranya. Jadi, didasari dengan kemauan yang kuat, ia bisa sekolah sambil bekerja untuk membiayai sekolahnya. Dan setiap hari ia harus berjalan kaki menuju sekolah. Padahal jarak rumah ke sekolah kurang lebih 7 km. Ia harus berangkat pagi sekitar jam 5. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan saya. Saya berangkat ke sekolah pukul 06.40. Padahal jam masuk sekolah pukul 06.45. Yah, bisa dimaklumi kalau setiap hari saya telat wkwk.

Juga dapat dilihat, kalau ia seorang pekerja keras. Bukan orang pemalas seperti saya. Bayangkan, kenapa ia harus tetap sekolah dengan berjalan kaki padahal jarak rumah ke sekolah jauh ? Kenapa ia tidak merasa malas ? Orang tidak mampu seperti beliau, juga sering mendapat olokan dari temannya. Kenapa juga ia masih betah dengan olokan seperti itu ? Apa karena kemauannya terlalu kuat ? Orang yang memiliki kemauan keras memang menganggap rintangan hanya sebagai batu kecil yang mudah disingkirkan.

Lanjut lagi ke cerita. Ia belajar dengan sungguh - sungguh. Memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Bisa dibilang kalau dulu ia anak berprestasi, walaupun dia mempunyai keterbatasan dalam bidang ekonomi. Sampai akhirnya, setamat SMA ia ingin kuliah. Prinsipnya, ia ingin kuliah tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun. Karena memang keadaan ekonomi yang seperti itu. Dan secara kebetulan, ia mendengarkan berita di radio. Radio itupun bukan miliknya sendiri, melainkan radio tetangga. Di radio itu ia mendengarkan kalau ada pendaftaran di STPDN (sekarang berganti nama menjadi IPDN). Untuk kuliah disana, tidak memerlukan biaya.

Jadi, setelah mendengar berita dari radio itu, ia langsung menuju ke tempat pendaftaran. Hari itu adalah hari terakhir pendaftaran. Saat sampai di tempat pendaftaran, ternyata nama - nama yang terlebih dahulu daftar, sudah diketik dan akan disetorkan ke pusat. Dan Bapak saya adalah orang terakhir yang daftar. Sebenarnya sudah tidak bisa, tapi setelah petugas melihat rapor Bapak saya, dia berkata : "Eman - eman iki dek, nilaine apik"

Petugas mengatakan kalau nilai rapor Bapak saya bagus. Untungnya di lembaran kertas terakhir masih ada sisa sedikit. Jadi, nama Bapak saya bisa disisipkan disitu. Beberapa waktu kemudian, dia mengikuti beberapa tes, dan dia dinyatakan lulus. Jadi, ia kuliah di IPDN dan ia seperti sekarang ini. Seorang figur yang selalu saya kagumi dalam hal apapun. 

Inti dari cerita tadi adalah usaha yang dia lakukan selama itu tidak sia - sia. Dia memperoleh hasilnya di akhir. Walaupun dalam berjuang terasa berat, tapi ia bisa memetik hasil perjuangannya di hari kemudian. Mungkin jika diawal ia malas, nilainya jelek, bisa saja dia tidak di terima di situ. Ia juga mengatakan kalau kesempatan tidak datang dua kali, manfaatkanlah kesempatan sebaik mungkin. Cerita ini membuat saya berfikir lebih jauh. Mungkin selama ini saya berpendapat kalau apa yang kita pelajari di sekolah sia  sia. Ya, untuk sekarang memang belum terasa hasil sebenarnya. Tapi, mungkin nanti di hari kemudian saya akan menikmati hasil yang telah di tanam selama bertahun  tahun.

So, buat para pelajar yang merasa malas seperti saya, cepatlah kalian sadar (biarkan saya saja yang belum sadar, wkwk ). Yang dibutuhkan saat ini hanyalah belajar dan belajar. Saya tahu, belajar memang membosankan. Tapi, seberapa banyak kita belajar, akan menentukan akan jadi apa kita kelak. Belajar di sekolah memang sangat perlu, tapi hal itu tidak membatasi diri kita untuk mempelajari hal lain di luar sekolah. Manusia adalah makhluk paling sempurna diantara makhluk Allah yang lain. Kita diberi akal untuk kita gunakan sebaik - baiknya. Salah satunya dengan menuntut ilmu. Menuntut ilmu itu penting, karena Allah akan mengangkat derajat orang yang menuntut ilmu.

Sebagaimana terkandung dalam surat Al - Mujadilah ayat 11 :

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan

Bagaimana gaes, masih malas menuntut ilmu ? Percayalah setiap usaha yang kita lakukan tidak akan sia - sia. Kita pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal sesuai apa yang telah kita kerjakan. So, keep fighting !


Artis Papan Atas pamit.....................

8 comments:

  1. coba dijadiin cerpen, keren inih (:

    ReplyDelete
  2. semangat dan nikmatin aja, tar kalau udah lulus malah kangen pangen jadi pelajar lagi :D

    ReplyDelete
  3. ayoo sadar, hehe kerasanya nanti loh kalau udah selesai sekolah/kuliah.. jangan sampe nyesel dikemudian hari :)

    ReplyDelete
  4. Aku juga sering bertanya-tanya buat apa sekolah kalo setelah lulus nanti pelajaran-pelajaran yang udah dipelajari belum tentu dipake. Misalnya, kalau kuliah bukan di jurusan yang udah kita pelajari disekolah.
    Akhir-akhir ini aku juga males sekolah karena mungkin aku salah jurusan. Dulu pengen masuk IPS, endingnya malah masuk IPA :( #curhat

    ReplyDelete